Dunia Pendidikan
Minggu, 13 Maret 2022
SMP Negeri 5 Banjarbaru adalah
salah satu sekolah negeri yang berada di kota Banjarbaru. letak bangunannya
strategis berada di tengah kota, tepatnya di jalan Ambulung No.30 Loktabat
selatan kecamatan Banjarbaru Selatan
Kota Banjarbaru. Sekitar sekolah terdapat banyak kantor fasilitas publik,
seperti kantor Dinas Pendidikan, kantor kecamatan, kantor kelurahan, masjid, Sekolah
TK Idaman, SDN 2 Loktabat selatan dan Pasar Pemko banjarbaru.
Berikut Aset-aset atau sumber
daya yang dimiliki oleh SMP Negeri 5 Banjarbaru.
1. Modal Manusia
Dari sekolah negeri tingkat SLTP
yang berada di kota Banjarbaru, SMP Negeri 5 Banjarbaru termasuk salah satu sekolah
besar, dengan memiliki 29 kelas (rombel) dan jumlah warga sekolah diatas 1000.
yang terdiri dari 1 kepala sekolah, 3 wakil kepala sekolah, 49 Tenaga pendidik,
9 tenaga kependidikan dan 6 karyawan serta 975 siswa.
Aset yang dimiliki oleh sekolah dari unsur guru
adalah Sebagian besar guru telah bersertifikat pendidik. Beberapa guru senior
menjadi instruktur dan kordinator MGMP kota. Selain itu sebagian dari jumlah
guru adalah guru-guru muda yang punya semangat tinggi, energik dan mempunyai
kemampuan teknologi informasi yang baik. Hal ini sangat mendukung segala
kegiatan sekolah terutama pembelajaran di masa pandemi sekarang ini yang lebih
banyak menggunakan pembelajaran daring. Di samping itu, antara pimpinan
sekolah, guru dan karyawan mempunyai ikatan kekeluargaan yang sangat erat,
kompak dan saling membantu jika ada masalah atau kesulitan.
Dari unsur murid, SMP Negeri 5 ini
mempunyai siswa yang heterogen dari
berbagai potensi baik akademik maupun non akademik, bersemangat dalam kegiatan
sekolah, berpartisipasi aktif dan berprestasi dalam berbagai perlombaan baik
yang diadakan oleh Lembaga, sekolah, dinas maupun provinsi. Banyak prestasi
yang diperoleh terutama di bidang kepramukaan, PMR, seni dan olahraga.
Selain guru dan murid, ada
pengawas sekolah yang memberikan pembinaan dan pembimbingan baik terhadap
terlaksananya program sekolah maupun kepada para guru. ada juga Tenaga kependidikan
dan karyawan sekolah yang bekerja sesuai dengan tupoksi masing-masing yang
mendukung terlaksananya kegiatan sekolah. Selain itu ada orangtua siswa yang
tergabung dalam komite sekolah dan paguyuban yang selalu mendukung kebijakan sekolah,
dukungan yang diberikan berupa pemikiran, tenaga maupun finansial untuk
terlaksananya proses PBM yang berpihak pada murid.
2. Modal Fisik
SMP Negeri 5 Banjarbaru memiliki 1
kantor sekolah, 3 ruang guru dan 31 ruang kelas yang bisa menampung semua
murid, memiliki toilet yang terpisah antara toilet kepala sekolah, guru dan
siswa. Selain itu ada ruang laboratorium Bahasa, laboratorium IPA dan
Laboratorium Komputer. Mempunyai ruang BK, ruang keorganisasian seperti ruang
Osis, Pramuka, dan ruang seni. Ada juga UKS, ruang koperasi, kantin, musholla,
aula, lapangan yang luas untuk kegiatan olahraga, mempunyai panggung seni, green
house, peralatan hidroponik, tempat parkir, saluran air dan pembuangannya.
Sarana dan prasarana ini mendukung berlangsungnya pembelajaran yang bermakna
pada murid.
3. Modal Lingkungan / Alam
SMP Negeri 5 Banjarbaru adalah
termasuk sekolah Adiwiyata Nasional dan sekolah ramah anak. Sekolah ini memiliki
taman yang luas dan asri serta tertata dengan baik, di depan setiap kelas
memiliki taman kelas masing-masing, Selain itu juga mempunyai kebun belakang
yang luas yang bisa digunakan untuk media pembelajaran, disamping itu di dalam
lingkungan sekolah banyak pohon besar dan tanaman, yang membuat lingkungan asri
dan udara bersih serta sejuk. Pemanfaatan modal lingkungan ini bisa digunakan
untuk belajar murid, kegiatan ekstrakurikuler, literasi, diskusi, tempat santai
dan tempat menunggu penjemputan siswa.
4. Modal Finansial
Untuk finansial, SMP Negeri 5 Banjarbaru
ini menggandalkan dari BOS reg yang diberikan oleh pemerintah pusat, juga dari
BOSda yang diberikan oleh pemerintah daerah Kota Banjarbaru. Sekolah juga
memanfaatkan penghasilan dari kantin, kas kelas siswa dan dukungan finansial
dari orangtua murid melalui komite / paguyuban yang secara sukarela mendukung untuk
kegiatan pembelajaran murid.
5. Modal Sosial
Modal sosial yang dimiliki oleh
sekolah adalah adanya hubungan yang baik dan kerjasama yang bagus yang tidak
hanya di dalam komunitas internal, yaitu antara sesama warga sekolah, tetapi
sekolah juga menjalin hubungan dan Kerjasama yang baik dengan pemerintah
setempat, Lembaga swasta dan masyarakat luar. Hubungan yang baik di dalam komunitas
praktisi, MGMP, OSIS, arisan keluarga besar SMPN 5, komite, paguyuban orangtua
murid menjadi modal sekolah dalam
mewujudkan visi misi sekolah, melalui Kerjasama yang baik , guru bisa
meningkatkan kompetensinya, bisa berkolaborasi untuk bisa memberikan
pembelajaran yang bermakna pada murid. sekolah melakukan kerjasama dengan
perusahaan, kecamatan, BNN, polres, puskesmas, Dinas Lingkungan Hidup, dll
dalam rangka mengimplementasikan strategi pembelajaran yang berbeda pada murid.
6. Modal Politik
Modal politik yang dimiliki
sekolah adalah dengan melakukan Kerjasama dan bersinergi dengan pemerintah
setempat. Bersinergi dengan Dinas Pendidikan, Pemerintah Kota Banjarbaru,
kecamatan Banjarbaru selatan. Sekolah juga bersinergi dengan puskesmas, murid
bisa mendapatkan vaksin dan imunisasi. bekerjasama dengan PDAM menjamin
ketersediaan air di lingkungan sekolah, bekerjasama dengan Telkom menjamin
ketersediaan internet, PLN dalam penerangan lingkungan sekolah. Sekolah juga
bersinergi dengan babinsa, kepolisian membantu ketertiban lingkungan sekolah
dan Dinas Kebersihan Kota yang membantu dalam pengangkutan sampah sekolah.
7. modal Agama dan Budaya
Untuk modal agama dan budaya,
sekolah telah memiliki guru dan murid yang beragam agama, suku dan budaya.
Ketika kegiatan pembiasaan religius yang dilakukan setiap minggu kedua, murid
mendapatkan bimbingan materi sesuai dengan agama masing-masing. Sekolah juga memiliki
tenaga kontrak yang khusus mengelola program tahfidz bagi murid-murid yang
berminat menghafal Al-Qur’an. Sekolah juga memiliki kegiatan ekstrakurikuler
yang berkaitan dengan seni dan budaya untuk melestarikan kesenian dan kebudayaan
banjar, diantaranya ada ekskul musik panting yang merupakan kesenian musik khas
banjar, group maulid habsyi dan ekskul tari.
Refleksi Terhadap Pemetaan
aset yang dimiliki oleh sekolah
Setelah melakukan pemetaan aset
yang dimiliki oleh sekolah, saya tersadar bahwa ternyata aset yang dimiliki
oleh sekolah banyak dan beragam. Saya juga menyadari pentingnya peranan aset
dalam pengembangan sekolah untuk memberikan pembelajaran yang berpihak pada
murid. dari hasil pemetaan aset yang ada saya melihat ada beberapa aset yang
belum difungsikan secara optimal, terutama yang berkaitan dengan pembelajaran
yang saya ampu yaitu adanya peralatan hidroponik yang tidak terpakai dan adanya
ruang tanaman toga yang kurang terawat. Hal ini membuat saya mempunyai
pemikiran untuk bisa memaksimalkan potensi tersebut tentunya dengan melihat
potensi lainnya yang terkait.
Secara tidak sadar, pemikiran kita
selama ini terbiasa melihat dari sisi masalah atau kekurangan saja, Ketika kita
membutuhkan dukungan, dalam merancang proses pembelajaran, kita terbiasa
melihat dari sisi kekurangannya apa, bagaimana kita mencari bantuan pihak luar
untuk menutupi kekurangan tersebut. Kita seakan pasif selalu bergantung pada
pihak lain untuk bisa menyelesaikan masalah. Hal ini membuat kita menutup diri
dari nilai kemandirian dan kreatifitas untuk menggali potensi yang ada pada
diri kita. Kita tidak fokus pada kekuatan apa yang kita miliki untuk menyelesaikan
masalah tersebut atau untuk mewujudkan program pembelajaran yang berpihak pada murid.
Hal yang demikian ini dikenal dengan Pendekatan Komunitas Berbasis Aset (PKBA).
Yaitu pendekatan yang menekankan pada pemberdayaan sumber daya (aset) yang miliki.
Pendekatan berbasis aaset ini melahirkan kemandirian dan kreatifitas dari suatu
komunitas untuk bisa menyelesaikan tantangan yang dihadapi dengan bermodalkan
kekuatan dan potensi yang ada dalam diri.
Kita sebagai seorang guru yang
juga sebagai pemimpin pembelajaran seyogyannya juga bisa memberdayakan potensi
yang ada dalam diri dan potensi yang dimiliki oleh sekolah, untuk memberikan
pembelajaran yang berpusat pada murid. Peran pemimpin sekolah juga diharapkan untuk bisa memberdayakan semua
potensi yang ada untuk mewujudkan visi misi sekolah melalui program-program
pembelajaran yang berpihak pada murid. Hubungan yang baik, saling bersinergi
antara semua anggota komunitas baik itu pimpinan, tenaga kependidikan dan
karyawan dengan pendekatan berbasis aset sangat penting karena masing-masing
akan berlomba untuk memberdayakan semua potensi yang dimilikinya masing-masing.
Dengan demikian pengelolaan dan pemberdayaan aset akan berlangsung secara
optimal. Dengan pengelolaan yang baik dan pemberdayaan semua sumber daya secara
optimal, maka program-program inovatif melalui pembelajaran yang yang berpihak
pada murid akan berjalan dengan baik, sehingga terwujudnya visi misi sekolah
dan tentunya akan meningkatkan mutu pendidikan sekolah.
Peran Seorang pendidik adalah sebagai pemimpin pembelajaran. Seorang pemimpin pembelajaran seyogyanya mempunyai kompetensi memimpin dalam upaya mengelola lingkungan belajar yang berpusat pada murid. Sebagai seorang pemimpin, kita harus mampu mengidentifikasi dan mengelola sumber daya (aset) yang dimiliki oleh sekolah untuk bisa kita jadikan kekuatan (modal) dalam merencanakan dan melaksanakan pembelajaran yang berpusat pada murid sehingga terwujudnya visi misi sekolah dan tentunya untuk meningkatkan mutu pendidikan. Sumber daya yang dimiliki oleh sekolah meliputi modal manusia, fisik, lingkungan (alam), finansial, modal sosial, politik dan agama serta budaya.
Sekolah merupakan sebuah ekosistem yang didalamnya
terdapat jalinan interaksi antara faktor biotik (pemimpin sekolah, guru, staf,
& orangtua murid) dengan lingkungan (faktor abiotik). Hubungan antara kedua
unsur ini (faktor biotik dan abiotik) haruslah
terjalin dengan baik dan harmonis untuk bisa mendukung tersedianya
lingkungan belajar yang berpusat pada murid.
Seorang pendidik adalah salah
satu modal utama yg dimiliki sekolah
dalam penyelenggaraan pendidikan dan pengajaran di sekolah. Bagaimana pentingnya
Peran pendidik dalam mengelola dan memberdayakan aset yang ada dalam diri dan
lingkungannya untuk bisa mencapai tujuan pendidikan yaitu menuntun murid dengan
segala potensi kodrat yg dimiliki untuk mencapai keselamatan dan kebahagiaan
setinggi-tingginya baik sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat.
Dengan nilai kemandirian, reflektif, inovatif, kolaboratif dan berpihak pada
murid , seorang pemimpin diharapkan mampu mengelola sumber daya yang ada baik
itu modal dirinya sendiri, siswa, lingkungan dan pihak-pihak yang terkait untuk
bisa mendukung terselenggaranya pembelajaran yang bermakna, yaitu pembelajaran
yang memperhatikan sosial emosional murid dan pembelajaran yang memperhatikan
kebutuhan belajar setiap individu murid sesuai dengan kesiapan belajar, minat
dan profil belajar murid tersebut. Dengan memaksimalkan potensi yang dimilikinya, seorang pendidik
juga bisa membantu menyelesaikan masalah siswa atau orang lain melalui proses
coaching.
Pengelolaan dan Pemberdayaan
sumber daya yang ada akan berlangsung secara optimal jika seorang pemimpin
dalam mengambil keputusan berorientasi pada pendekatan berbasis aset, bukan
berbasis masalah atau kekurangan. Pendekatan berbasis aset adalah suatu
pendekatan yang mana seorang pemimpin mempunyai kompetensi dalam mengambil keputusan melalui program-program inovasi untuk
memberikan pembelajaran yang berpusat pada siswa dengan melihat potensi (aset) yang dimiliki. Pendekatan
berbasis aset akan melahirkan pemikiran dan sikap yang positif untuk menghadapi
tantangan atau kendala yang dihadapi dengan mengoptimalkan potensi aset yang
dimilikinya, Sehingga akan melahirkan kemandirian dan kreatifitas yang positif.
Sebaliknya pendekatan berbasis masalah akan membuat kita fokus hanya pada
masalah/kekurangan. Pendekatan ini menempatkan kita pada posisi tidak berdaya,
pasif dan merasa tergantung pada pihak lain sehingga membuat kita tidak
menyadari akan kekuatan (potensi) yang kita miliki. Bagi kami Pendekatan berbasis
Aset ini menjadi pengetahuan baru yang sebelumnya kami cenderung pada
pendekatan berbasis masalah. Tentunya pendekatan berbasis aset ini sangat baik
untuk diterapkan di sekolah.
Sebagai contoh pendekatan
berbasis aset ketika seorang guru ingin memberikan pembelajaran yang bermakna
pada murid, yang akan mengajarkan materi tentang budidaya tanaman toga. Seorang
guru dengan perannya sebagai pemimpin pembelajaran mengambil keputusan untuk
melaksanakan pembelajaran budidaya
tanaman toga secara langsung di sekolah. Dengan memaksimalkan potensi yang
dimilikinya, guru melakukan diskusi dengan pimpinan sekolah, melakukan sharing
dan kolaborasi dengan teman sejawat serta membuat rencana pembelajaran dengan
baik. Guru memaksimalkan potensi murid untuk bisa melakukan proses budidaya,
memanfaatkan potensi orangtua murid untuk ketersediaan bibit tanaman toga, memanfaatkan potensi fisik dan
lingkungan untuk ketersediaan lahan dan proses budidaya tanaman toga. dengan
memaksimalkan semua potensi yang ada, keputusan yang diambil oleh seorang
pemimpin pembelajaran untuk memberikan pembelajaran yang berpusat pada murid
akhirnya bisa terwujud.
Dari semua uraian diatas, dapat
disimpulkan bahwa peranan pemimpin dalam pengelolaan dan pemberdayaan aset yang
dimiliki sekolah sangat penting dalam terwujudnya proses pembelajaran yang
berpihak pada murid. Dengan pemanfaatan sumber daya (aset) secara maksimal,
visi misi sekolah akan terwujud dan tentunya akan meningkatkan mutu pendidikan
sekolah.
Selasa, 22 Februari 2022
“Mengajarkan anak menghitung itu baik, namun mengajarkan mereka apa yang berharga/utama adalah yang terbaik”
(Teaching kids to
count is fine but teaching them what counts is best).
Bob Talbert
Dari kutipan di atas bahwa sebagai
pendidik kita tidak hanya memberikan pembelajaran yang mengasah pada kecerdasan
intelektual anak saja, tapi juga mengajarkan anak bagaimana mereka memiliki
kecerdasan spiritual, emosional dan social.
Nilai-nilai yang tertanam dalam
diri seorang pendidik seperti nilai kejujuran, keadilan, kasih sayang dan
lain-lain tentunya sangat mempengaruhi seseorang dalam suatu pengambilan
keputusan. seorang pendidik dengan nilai-nilai kebajikan yang tertanam dalam
dirinya dan berpegang pada keyakinan yang dianut serta percaya bahwa apa yang
dia putuskan nanti akan dimintai pertanggingjawaban kelak di akhirat maka dia
akan menjunjung tinggi nilai kebenaran sesuai dengan keyakinan agamanya, begitu
juga sebaliknya jika seseorang telah kehilangan idealismenya, gersang pada
nilai-nilai keyakinan yang dianut maka tidak mungkin seseorang akan tergerus
nilai kebenaran, kejujuran dan keadilannya sehingga mudah untuk memutuskan semata-mata
demi kepentingan diri sendiri atau untuk kepentingan orang lain yang
mendukungnya (kelompok tertentu).
Ketika seseorang berpegang teguh
pada nilai-nilai atau prinsip-prinsip yang dianutnya maka pengambilan keputusan
tentunya akan menjunjung tinggi nilai kebenaran tidak goyah akan bujukan dan
godaan yang akan mempengaruhi keadilan dalam pengambilan keputusan. Sehingga keputusan yg diambil berpegang pada prinsip kebenaran dan kebijaksanaan. hal ini akan membuat lingkungan yang tercipta akan menjadi lingkungan yang berbudaya positif, kondusif, aman, dan nyaman.
Seorang pendidik sebagai pemimpin pembelajaran dapat berkontribusi di setiap
pengambilan keputusan melalui Tindakan-tindakan atau perilaku yang
diputuskan dalam proses pembelajaran
kepada murid baik yang dilakukan di
dalam kelas maupun di lingkungan sekolah. Guru dengan karakter yang baik
mengajarkan murid tentang bagaimana keputusan dibuat melalui pertimbangan moral
bukan nafsu semata.
Sekolah adalah salah satu tempat
pendidikan bagi anak. Dalam proses Pendidikan dan pengajaran di sekolah diharapkan
segala potensi yang dimiliki anak bisa berkembang secara optimal sehingga anak tidak
hanya mampu mencapai kecerdasan intelektual tetapi juga kecerdasan social
emosional dan spiritual. Berdasarkan pandangan Ki Hajar Dewantara tentang filosofi Pratap Triloka terhadap kepemimpinan
Pendidikan yaitu Ing Ngarso sung Tulodo, di depan mampu memberi teladan.
Disini seorang pendidik sebagai pemimpin pembelajaran hendaklah dapat mengambil
keputusan secara tepat dan bijaksana karena dijadikan contoh teladan oleh
anak. Ing Madya mangun Karso
ditengah membangun semangat. Artinya sebagai pemimpin pembelajaran seorang
pendidik mampu mengambil keputusan yang bisa mendukung dan memberi semangat anak
didiknya. Tut Wuri Handayani di belakang memberi dorongan artinya pengambilan
keputusan seorang pendidik mampu memberi dorongan , dukungan dan kepercayaan
pada anak untuk bisa mengembangkan diri secara optimal.
Di sini pengambilan keputusan seorang pendidik memegang
peranan yang sangat penting sebagai pemimpin pembelajaran dalam proses pendidikan dan pengajaran anak di sekolah. Oleh karena itu Sebagai pendidik harus
mempunyai nilai-nilai kemanusiaan, diantaranya nilai kejujuran, kebenaran, keadilan,
tanggungjawab, kepedulian, kasihsayang dan lain sebagainya. Seorang pendidik diibaratkan sebagai
tukang kebun, yang merawat tumbuhnya nilai-nilai kebaikan di dalam
murid-muridnya. Pendidik memiliki peran yang penting dalam mengembangkan
lingkungan di mana murid berproses menumbuhkan nilai-nilai dirinya tersebut.
Dengan demikian pendidik patut mengembangkan lingkungan yang sifatnya fisik (ekstrinsik)
dan yang sifatnya psikis (intrinsik) pada anak.
Seorang pendidik juga harus mampu
mengakomodir perbedaan bakat, minat dan gaya belajar murid sehingga dalam
proses pembelajaran murid mendapatkan pembelajaran yang menyenangkan dan sesuai
dengan profil belajar mereka masing-masing. Untuk itu diperlukan pengambilan
keputusan yang tepat agar seluruh kepentingan murid bisa terakomodir dengan
baik. Kompetensi social emosional juga penting dimiliki oleh seorang pendidik.
Karena dengan kemampuan dalam mengelola dan menyadari aspek social emosionalnya
guru dapat focus dalam pembelajaran dan dapat mengambil keputusan dengan tepat
dan bijak. proses coaching juga akan membantu anak dalam mengeksplorasi diri
guna mencapai tujuan pembelajaran dan memaksimalkan potensi anak untuk mencapai
tujuan yaitu kemerdekaan dalam belajar.
Dalam pengambilan keputusan seorang pendidik harus mampu
membedakan permasalahan tersebut apakah dilema etika atau bujukan moral. Bujukan moral
adalah situasi dimana seseorang harus mengambil keputusan benar atau salah.
Sedangkan dilemma etika adalah situasi dimana seseorang harus memilih situasi
antara benar lawan benar tetapi saling bertentangan.
Selain itu juga harus memperhatikan 4 paradigma dilema
etika yaitu
1. individu lawan kelompok
2. keadilan lawan kasihan
3. kebenaran lawan kesetiaan
4. jangka pendek lawan jangka panjang
Ada 3 prinsip pengambilan keputusan yang
kecenderungan seseorang mengambil keputusan, yaitu
1. Berpikir Berbasis Hasil akhir
2. Berpikir Berbasis Peraturan
3. Berpikir Berbasis Rasa Peduli
Untuk memastikan pengambilan keputusan kita tepat maka perlu
adanya 9 langkah pengujian pengambila keputusan, yaitu mengenali
nilai-nilai yang bertentangan, menentukan siapa yang terlibat, pengumpulan
fakta-fakta yang relevan, pengujian benar atau salah, pengujian paradigma benar
lawan benar, melakukan prinsip resolusi, investigasi Opsi Trilema, membuat
keputusan dan melihat lagi keputusan dan refleksikan.
Pengambilan keputusan yang tepat, tentunya berdampak positif
pada hasil akhir, dapat menumbuhkembangkan potensi anak dan terciptanya
lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman.
Kesulitan dalam pengambilan keputusan terhadap
kasus-kasus dilema etika
Terkadang apa yang
kita putuskan terjadi benturan antara peraturan dan prinsip-prinsip nilai yang ada dalam diri. Tidak mudah
mengambil keputusan yang menyenangkan dan memuaskan semua pihak, situasi yang
kurang kondusif dan kurangnya dukungan serta sempitnya waktu untuk berfikir
menjadi kesulitan tersendiri Ketika kita akan melakukan pengambilan keputusan
yang tepat dan bijak.
Kesimpulan dari pemaparan di atas, bahwa pengambilan
keputusan oleh seorang pendidik sebagai pemimpin pembelajaran memiliki peran
yang sangat penting dalam tumbuh kembang potensi anak, untuk mencapai
kecerdasan intelektual, spiritual maupun social emosional murid.
Definisi Coaching
Adalah sebuah percakapan, dialog saat seorang coach dan seseorang beristeraksi dalam sebuah komunikasi yang dinamis untuk mencapai tujuan, meningkatkan kinerja dan “menuntun” seseorang mencapai keberhasilannya (Zeus and Skiffington).
Coaching dalam konteks Pendidikan
Ki Hajar Dewantara menekankan bahwa tujuan pendidikan itu menuntun tumbuh kembangnya kekuatan kodrat anak sehingga dapat memperbaiki lakunya. Coaching menjadi salah satu proses “menuntun” belajar murid untuk mencapai kekuatan kodratnya. Sebagai seorang “pamong”, guru dapat memberikan “tuntunan” melalui pertanyaan-pertanyaan reflektif dan efektif agar kekuatan kodrat anak terpancar dari dirinya. Coaching memiliki peranan yang sangat penting karena dapat digunakan untuk menggali potensi murid sekaligus mengembangkannya dengan berbagai strategi yang disepakati bersama. Jika proses coaching berhasil dengan baik, masalah pembelajaran atau masalah yang mengganggu proses pembelajaran murid akan dapat teratasi.
Untuk dapat melakukan coaching diperlukan Keterampilan dasar yang harus dimiliki oleh seorang coach, yaitu 1) keterampilan membangun dasar coaching, 2) keterampilan membangun hubungan baik, 3) keterampilan berkomunikasi dan 4) keterampilan memfasilitasi pembelajaran.
Salah satu keterampilan dasar coaching adalah Keterampilan berkomunikasi yaitu komunikasi yang memberdayakan potensi sehingga dapat menghasilkan perubahan. 4 aspek Komunikasi yang memberdayakan :
1. komunikasi asertif:
- Memahami gaya komunikasi manusia
- Komunikasi membangun relasi
- Menyamakan posisi diri dengan lawan bicara
- Membangun “respect”
2. Pendengar aktif
3. Bertanya efektif: terbuka, focus pada tujuan, reflektif, mengukur pemahaman, eksplorasi dan aksi.
4. Umpan balik positif
Salah satu model coaching yang bisa dipraktekkan dalam konteks Pendidikan adalah model TIRTA. TIRTA kepanjangan dari Tujuan, Identifikasi, Rencana Aksi dan Tanggung jawab. Dari segi Bahasa TIRTA berarti air. Air mengalir dari hulu ke hilir. Air diibaratkan murid, maka biarlah air mengalir lepas, tugas kita sebagai pendidik adalah menjaga air tetap mengalir bebas, menyingkirkan sumbatan-sumbatan yang mungkin menghambat potensi anak melalui keterampilan coaching.