Selasa, 22 Februari 2022

 

“Mengajarkan anak menghitung itu baik, namun mengajarkan mereka apa yang berharga/utama adalah yang terbaik”

(Teaching kids to count is fine but teaching them what counts is best).

Bob Talbert

Dari kutipan di atas bahwa sebagai pendidik kita tidak hanya memberikan pembelajaran yang mengasah pada kecerdasan intelektual anak saja, tapi juga mengajarkan anak bagaimana mereka memiliki kecerdasan spiritual, emosional dan social.

Nilai-nilai yang tertanam dalam diri seorang pendidik seperti nilai kejujuran, keadilan, kasih sayang dan lain-lain tentunya sangat mempengaruhi seseorang dalam suatu pengambilan keputusan. seorang pendidik dengan nilai-nilai kebajikan yang tertanam dalam dirinya dan berpegang pada keyakinan yang dianut serta percaya bahwa apa yang dia putuskan nanti akan dimintai pertanggingjawaban kelak di akhirat maka dia akan menjunjung tinggi nilai kebenaran sesuai dengan keyakinan agamanya, begitu juga sebaliknya jika seseorang telah kehilangan idealismenya, gersang pada nilai-nilai keyakinan yang dianut maka tidak mungkin seseorang akan tergerus nilai kebenaran, kejujuran dan keadilannya sehingga mudah untuk memutuskan semata-mata demi kepentingan diri sendiri atau untuk kepentingan orang lain yang mendukungnya (kelompok tertentu).

Ketika seseorang berpegang teguh pada nilai-nilai atau prinsip-prinsip yang dianutnya maka pengambilan keputusan tentunya akan menjunjung tinggi nilai kebenaran tidak goyah akan bujukan dan godaan yang akan mempengaruhi keadilan dalam pengambilan keputusan. Sehingga keputusan yg diambil berpegang pada prinsip kebenaran dan kebijaksanaan. hal ini akan membuat lingkungan yang tercipta akan menjadi lingkungan yang berbudaya positif, kondusif, aman, dan nyaman. Seorang pendidik sebagai pemimpin pembelajaran dapat berkontribusi di setiap pengambilan keputusan melalui Tindakan-tindakan atau perilaku yang diputuskan  dalam proses pembelajaran kepada murid baik  yang dilakukan di dalam kelas maupun di lingkungan sekolah. Guru dengan karakter yang baik mengajarkan murid tentang bagaimana keputusan dibuat melalui pertimbangan moral bukan nafsu semata.

Sekolah adalah salah satu tempat pendidikan bagi anak. Dalam proses Pendidikan dan pengajaran di sekolah diharapkan segala potensi yang dimiliki anak bisa berkembang secara optimal sehingga anak tidak hanya mampu mencapai kecerdasan intelektual tetapi juga kecerdasan social emosional dan spiritual. Berdasarkan pandangan Ki Hajar Dewantara tentang  filosofi Pratap Triloka terhadap kepemimpinan Pendidikan yaitu Ing Ngarso sung Tulodo, di depan mampu memberi teladan. Disini seorang pendidik sebagai pemimpin pembelajaran hendaklah dapat mengambil keputusan secara tepat dan bijaksana karena dijadikan contoh teladan oleh anak.  Ing Madya mangun Karso ditengah membangun semangat. Artinya sebagai pemimpin pembelajaran seorang pendidik mampu mengambil keputusan yang bisa mendukung dan memberi semangat anak didiknya. Tut Wuri Handayani di belakang memberi dorongan artinya pengambilan keputusan seorang pendidik mampu memberi dorongan , dukungan dan kepercayaan pada anak untuk bisa mengembangkan diri secara optimal.

Di sini pengambilan keputusan seorang pendidik memegang peranan yang sangat penting sebagai pemimpin pembelajaran dalam proses pendidikan dan pengajaran anak di sekolah. Oleh karena itu Sebagai pendidik harus mempunyai nilai-nilai kemanusiaan, diantaranya nilai kejujuran, kebenaran, keadilan, tanggungjawab, kepedulian, kasihsayang dan lain sebagainya. Seorang pendidik diibaratkan sebagai tukang kebun, yang merawat tumbuhnya nilai-nilai kebaikan di dalam murid-muridnya. Pendidik memiliki peran yang penting dalam mengembangkan lingkungan di mana murid berproses menumbuhkan nilai-nilai dirinya tersebut. Dengan demikian pendidik patut mengembangkan lingkungan yang sifatnya fisik (ekstrinsik) dan yang sifatnya psikis (intrinsik) pada anak.

Seorang pendidik juga harus mampu mengakomodir perbedaan bakat, minat dan gaya belajar murid sehingga dalam proses pembelajaran murid mendapatkan pembelajaran yang menyenangkan dan sesuai dengan profil belajar mereka masing-masing. Untuk itu diperlukan pengambilan keputusan yang tepat agar seluruh kepentingan murid bisa terakomodir dengan baik. Kompetensi social emosional juga penting dimiliki oleh seorang pendidik. Karena dengan kemampuan dalam mengelola dan menyadari aspek social emosionalnya guru dapat focus dalam pembelajaran dan dapat mengambil keputusan dengan tepat dan bijak. proses coaching juga akan membantu anak dalam mengeksplorasi diri guna mencapai tujuan pembelajaran dan memaksimalkan potensi anak untuk mencapai tujuan yaitu kemerdekaan dalam belajar.

Dalam pengambilan keputusan seorang pendidik harus mampu membedakan permasalahan tersebut apakah dilema etika atau bujukan moral. Bujukan moral adalah situasi dimana seseorang harus mengambil keputusan benar atau salah. Sedangkan dilemma etika adalah situasi dimana seseorang harus memilih situasi antara benar lawan benar tetapi saling bertentangan.  

Selain itu juga harus memperhatikan 4 paradigma dilema etika yaitu

1. individu lawan kelompok

2. keadilan lawan kasihan

3. kebenaran lawan kesetiaan

4. jangka pendek lawan jangka panjang

Ada 3 prinsip pengambilan keputusan yang kecenderungan seseorang mengambil keputusan, yaitu

1. Berpikir Berbasis Hasil akhir

2. Berpikir Berbasis Peraturan

3. Berpikir Berbasis Rasa Peduli

Untuk memastikan pengambilan keputusan kita tepat maka perlu adanya 9 langkah pengujian pengambila keputusan, yaitu mengenali nilai-nilai yang bertentangan, menentukan siapa yang terlibat, pengumpulan fakta-fakta yang relevan, pengujian benar atau salah, pengujian paradigma benar lawan benar, melakukan prinsip resolusi, investigasi Opsi Trilema, membuat keputusan dan melihat lagi keputusan dan refleksikan.

Pengambilan keputusan yang tepat, tentunya berdampak positif pada hasil akhir, dapat menumbuhkembangkan potensi anak dan terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman.

Kesulitan dalam pengambilan keputusan terhadap kasus-kasus dilema etika

 Terkadang apa yang kita putuskan terjadi benturan antara peraturan dan prinsip-prinsip nilai yang ada dalam diri. Tidak mudah mengambil keputusan yang menyenangkan dan memuaskan semua pihak, situasi yang kurang kondusif dan kurangnya dukungan serta sempitnya waktu untuk berfikir menjadi kesulitan tersendiri Ketika kita akan melakukan pengambilan keputusan yang tepat dan bijak.

Kesimpulan dari pemaparan di atas, bahwa pengambilan keputusan oleh seorang pendidik sebagai pemimpin pembelajaran memiliki peran yang sangat penting dalam tumbuh kembang potensi anak, untuk mencapai kecerdasan intelektual, spiritual maupun social emosional murid.

 


 Definisi Coaching

Adalah sebuah percakapan, dialog saat seorang coach dan seseorang beristeraksi dalam sebuah komunikasi yang dinamis untuk mencapai tujuan, meningkatkan kinerja dan “menuntun” seseorang mencapai keberhasilannya (Zeus and Skiffington).

Coaching dalam konteks Pendidikan

Ki Hajar Dewantara menekankan bahwa tujuan pendidikan itu menuntun tumbuh kembangnya kekuatan kodrat anak sehingga dapat memperbaiki lakunya. Coaching menjadi salah satu proses “menuntun” belajar murid untuk mencapai kekuatan kodratnya. Sebagai seorang “pamong”, guru dapat memberikan “tuntunan” melalui pertanyaan-pertanyaan reflektif dan efektif agar kekuatan kodrat anak terpancar dari dirinya. Coaching memiliki peranan yang sangat penting karena dapat digunakan untuk menggali potensi murid sekaligus mengembangkannya dengan berbagai strategi yang disepakati bersama. Jika proses coaching berhasil dengan baik, masalah pembelajaran atau masalah yang mengganggu proses pembelajaran murid akan dapat teratasi.

Untuk dapat melakukan coaching diperlukan Keterampilan dasar yang harus dimiliki oleh seorang coach, yaitu 1) keterampilan membangun dasar coaching, 2) keterampilan membangun hubungan baik, 3) keterampilan berkomunikasi dan 4) keterampilan memfasilitasi pembelajaran.

Salah satu keterampilan dasar coaching adalah Keterampilan berkomunikasi yaitu komunikasi yang memberdayakan potensi sehingga dapat menghasilkan perubahan. 4 aspek Komunikasi yang memberdayakan :

1. komunikasi asertif:

- Memahami gaya komunikasi manusia

- Komunikasi membangun relasi

- Menyamakan posisi diri dengan lawan bicara

- Membangun “respect”

2. Pendengar aktif

3. Bertanya efektif: terbuka, focus pada tujuan, reflektif, mengukur pemahaman, eksplorasi dan aksi.

4. Umpan balik positif

Salah satu model coaching yang bisa dipraktekkan dalam konteks Pendidikan adalah model TIRTA. TIRTA kepanjangan dari Tujuan, Identifikasi, Rencana Aksi dan Tanggung jawab. Dari segi Bahasa TIRTA berarti air. Air mengalir dari hulu ke hilir. Air diibaratkan murid, maka biarlah air mengalir lepas, tugas kita sebagai pendidik adalah menjaga air tetap mengalir bebas, menyingkirkan sumbatan-sumbatan yang mungkin menghambat potensi anak melalui keterampilan coaching.