“Mengajarkan anak menghitung itu baik, namun mengajarkan mereka apa yang berharga/utama adalah yang terbaik”
(Teaching kids to
count is fine but teaching them what counts is best).
Bob Talbert
Dari kutipan di atas bahwa sebagai
pendidik kita tidak hanya memberikan pembelajaran yang mengasah pada kecerdasan
intelektual anak saja, tapi juga mengajarkan anak bagaimana mereka memiliki
kecerdasan spiritual, emosional dan social.
Nilai-nilai yang tertanam dalam
diri seorang pendidik seperti nilai kejujuran, keadilan, kasih sayang dan
lain-lain tentunya sangat mempengaruhi seseorang dalam suatu pengambilan
keputusan. seorang pendidik dengan nilai-nilai kebajikan yang tertanam dalam
dirinya dan berpegang pada keyakinan yang dianut serta percaya bahwa apa yang
dia putuskan nanti akan dimintai pertanggingjawaban kelak di akhirat maka dia
akan menjunjung tinggi nilai kebenaran sesuai dengan keyakinan agamanya, begitu
juga sebaliknya jika seseorang telah kehilangan idealismenya, gersang pada
nilai-nilai keyakinan yang dianut maka tidak mungkin seseorang akan tergerus
nilai kebenaran, kejujuran dan keadilannya sehingga mudah untuk memutuskan semata-mata
demi kepentingan diri sendiri atau untuk kepentingan orang lain yang
mendukungnya (kelompok tertentu).
Ketika seseorang berpegang teguh
pada nilai-nilai atau prinsip-prinsip yang dianutnya maka pengambilan keputusan
tentunya akan menjunjung tinggi nilai kebenaran tidak goyah akan bujukan dan
godaan yang akan mempengaruhi keadilan dalam pengambilan keputusan. Sehingga keputusan yg diambil berpegang pada prinsip kebenaran dan kebijaksanaan. hal ini akan membuat lingkungan yang tercipta akan menjadi lingkungan yang berbudaya positif, kondusif, aman, dan nyaman.
Seorang pendidik sebagai pemimpin pembelajaran dapat berkontribusi di setiap
pengambilan keputusan melalui Tindakan-tindakan atau perilaku yang
diputuskan dalam proses pembelajaran
kepada murid baik yang dilakukan di
dalam kelas maupun di lingkungan sekolah. Guru dengan karakter yang baik
mengajarkan murid tentang bagaimana keputusan dibuat melalui pertimbangan moral
bukan nafsu semata.
Sekolah adalah salah satu tempat
pendidikan bagi anak. Dalam proses Pendidikan dan pengajaran di sekolah diharapkan
segala potensi yang dimiliki anak bisa berkembang secara optimal sehingga anak tidak
hanya mampu mencapai kecerdasan intelektual tetapi juga kecerdasan social
emosional dan spiritual. Berdasarkan pandangan Ki Hajar Dewantara tentang filosofi Pratap Triloka terhadap kepemimpinan
Pendidikan yaitu Ing Ngarso sung Tulodo, di depan mampu memberi teladan.
Disini seorang pendidik sebagai pemimpin pembelajaran hendaklah dapat mengambil
keputusan secara tepat dan bijaksana karena dijadikan contoh teladan oleh
anak. Ing Madya mangun Karso
ditengah membangun semangat. Artinya sebagai pemimpin pembelajaran seorang
pendidik mampu mengambil keputusan yang bisa mendukung dan memberi semangat anak
didiknya. Tut Wuri Handayani di belakang memberi dorongan artinya pengambilan
keputusan seorang pendidik mampu memberi dorongan , dukungan dan kepercayaan
pada anak untuk bisa mengembangkan diri secara optimal.
Di sini pengambilan keputusan seorang pendidik memegang
peranan yang sangat penting sebagai pemimpin pembelajaran dalam proses pendidikan dan pengajaran anak di sekolah. Oleh karena itu Sebagai pendidik harus
mempunyai nilai-nilai kemanusiaan, diantaranya nilai kejujuran, kebenaran, keadilan,
tanggungjawab, kepedulian, kasihsayang dan lain sebagainya. Seorang pendidik diibaratkan sebagai
tukang kebun, yang merawat tumbuhnya nilai-nilai kebaikan di dalam
murid-muridnya. Pendidik memiliki peran yang penting dalam mengembangkan
lingkungan di mana murid berproses menumbuhkan nilai-nilai dirinya tersebut.
Dengan demikian pendidik patut mengembangkan lingkungan yang sifatnya fisik (ekstrinsik)
dan yang sifatnya psikis (intrinsik) pada anak.
Seorang pendidik juga harus mampu
mengakomodir perbedaan bakat, minat dan gaya belajar murid sehingga dalam
proses pembelajaran murid mendapatkan pembelajaran yang menyenangkan dan sesuai
dengan profil belajar mereka masing-masing. Untuk itu diperlukan pengambilan
keputusan yang tepat agar seluruh kepentingan murid bisa terakomodir dengan
baik. Kompetensi social emosional juga penting dimiliki oleh seorang pendidik.
Karena dengan kemampuan dalam mengelola dan menyadari aspek social emosionalnya
guru dapat focus dalam pembelajaran dan dapat mengambil keputusan dengan tepat
dan bijak. proses coaching juga akan membantu anak dalam mengeksplorasi diri
guna mencapai tujuan pembelajaran dan memaksimalkan potensi anak untuk mencapai
tujuan yaitu kemerdekaan dalam belajar.
Dalam pengambilan keputusan seorang pendidik harus mampu
membedakan permasalahan tersebut apakah dilema etika atau bujukan moral. Bujukan moral
adalah situasi dimana seseorang harus mengambil keputusan benar atau salah.
Sedangkan dilemma etika adalah situasi dimana seseorang harus memilih situasi
antara benar lawan benar tetapi saling bertentangan.
Selain itu juga harus memperhatikan 4 paradigma dilema
etika yaitu
1. individu lawan kelompok
2. keadilan lawan kasihan
3. kebenaran lawan kesetiaan
4. jangka pendek lawan jangka panjang
Ada 3 prinsip pengambilan keputusan yang
kecenderungan seseorang mengambil keputusan, yaitu
1. Berpikir Berbasis Hasil akhir
2. Berpikir Berbasis Peraturan
3. Berpikir Berbasis Rasa Peduli
Untuk memastikan pengambilan keputusan kita tepat maka perlu
adanya 9 langkah pengujian pengambila keputusan, yaitu mengenali
nilai-nilai yang bertentangan, menentukan siapa yang terlibat, pengumpulan
fakta-fakta yang relevan, pengujian benar atau salah, pengujian paradigma benar
lawan benar, melakukan prinsip resolusi, investigasi Opsi Trilema, membuat
keputusan dan melihat lagi keputusan dan refleksikan.
Pengambilan keputusan yang tepat, tentunya berdampak positif
pada hasil akhir, dapat menumbuhkembangkan potensi anak dan terciptanya
lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman.
Kesulitan dalam pengambilan keputusan terhadap
kasus-kasus dilema etika
Terkadang apa yang
kita putuskan terjadi benturan antara peraturan dan prinsip-prinsip nilai yang ada dalam diri. Tidak mudah
mengambil keputusan yang menyenangkan dan memuaskan semua pihak, situasi yang
kurang kondusif dan kurangnya dukungan serta sempitnya waktu untuk berfikir
menjadi kesulitan tersendiri Ketika kita akan melakukan pengambilan keputusan
yang tepat dan bijak.
Kesimpulan dari pemaparan di atas, bahwa pengambilan
keputusan oleh seorang pendidik sebagai pemimpin pembelajaran memiliki peran
yang sangat penting dalam tumbuh kembang potensi anak, untuk mencapai
kecerdasan intelektual, spiritual maupun social emosional murid.